Jurnal of Religious Issues

let's save religious destruction by dialogue

Filsafat dan mitos-mitos air dalam diskursus bencana :Tinjauan khusus budaya sunda

Siapapun sepakat bahwa air adalah sumber kehidupan. Air juga merupakan satu-satunya pembeda antara bumi dengan planet lainnya dalam tata surya yang menyebabkan bumi layak dihuni oleh manusia. Namun, siapapun juga tahu bahwa air adalah salah satu sumber bencana. Tsunami dan banjir adalah bukti dari dahsyatnya bencana yang ditimbulkan oleh air. Oleh karena itu, mengkaji air dalam bencana tidak akan kalah menarik dari mengkaji efek bencana yang disebabkan oleh air.
Jika air adalah faktor penting penyebab bencana, barangakali pandangan masyarakat tentang air akan menentukan cara-cara mengatasi bencana yang disebabkan oleh air. Pandangan masyarakat tersebut dengan gamblang atau tersirat terukir dalam cara-cara mereka dalam menginterpretasi dirinya, Tuhan dan alam. Saya berasumsi bahwa pemahaman tersebut sedikit banyak akan berpengaruh terhadap kesiap-siagaan (disaster preparedness) mereka dalam menghadapi bencana.
Sunda dan filsafat air
Tulisan ini akan mecoba melihat pesan-pesan kesiap-siagaan dalam menghadapi bencana dalam filsafat dan mitos-mitos air yang ada di masyarakat Sunda. Saya lihat dalam budaya masyarakat Sunda terdapat pemahaman yang mendalam terhadap air sebagai hasil persinggungan dan perenungan philosophisnya. Air dalam filsafat (pandangan hidup) masyarakat Sunda adalah simbol identitas komunitas yang kemudian mentradisi dalam ritual dan pandangan keduniaan.
Ada beberapa ahli yang berpendapat bahwa identitas masyarakat Sunda adalah masyarakat air. Pertama Hidayat Suryalaga (2004). Ia mengatakan bahwa Sunda itu air, karena kata Sunda dalam bahasa Sanksakerta bermakna air. Tampaknya ia lebih menekankan kepada identitas Sunda secara geneologis yang dipengaruhi oleh kebudayaan Sunda lama, terutama pada masa kerajaan-kerajaan Sunda dimana pengaruh agama India sangat kuat. Selanjutnya Karl A. Witfogel (2003), seorang sarjana Jerman dalam majalah Cupumanik ia mengkatagorikan masyarakat sunda sebagai hydrolic society. Masyarakat jenis ini hidupnya tidak terlepas dari air, bahkan pandangan hidupnya terbentuk dari refleksinya atas air.
Saya kira mencari geneologi orang Sunda dilihat dari sejarah mentalitasnya tidak mudah dibuktikan dalam konteks Sunda modern. Meskipun begitu, saya lihat ada satu indikasi yang menggambarkan kedekatan masyarakat Sunda dengan air yang pada taraf tertentu mendekati thesisnya Suryalaga dan Witfogel di atas yaitu adapatasi nama-nama komunitas terhadap unsur-unsur air. Misalnya nama-nama tempat yang di awali oleh kata “ci” yang berarti air. Adapatasi tersebut kemudian membentuk semacam identitas komunitas dalam bentuk nama-nama kota, kampung, dan juga barang-barang pusaka.
Sebagai bukti di Jawa Barat terdapat ratusan, bahkan ribuan, nama-nama tempat yang di awali kata “ci”, seperti Cianjur, Cimalaka, Ciasmay, dll. Selain itu masih banyak pula nama daerah yang diawali kata yang bermakna air dalam kadar, kondisi, dan di tempat tertentu. Misalnya kata: Andir, Empang, Parigi, Bendungan, Balong, Léngkong, Parung, Dermaga, seke, Ranca, Curug, Parakan, Rawa, Talaga, Kali, Solokan dll.” Air dalam pengertian di atas bermakna ruang eksistensi manusia. Karena kata “Cimalaka,” ia tidak lagi dimaknai secara terpisah sebagai “air” yang ada di daerah “Malaka”, tetapi sebagai tanah air.
Mengapa masyarakat Sunda cenderung mengatributi tempat tinggal mereka dengan air? Barangkali persoalannya bukan semata-mata air, tetapi menunjukkan sesuatu yang lebih dalam daripada air. Saya memahami air sebagai bagian dari sistem ekologi. Asumsi saya, penggunaan air sebagai identitas komunitas bisa jadi menunjukkan sebuah pandangan hidup komunitas yang bersifat ekologis. Menurut Sony A. Keraf (2006) masyarakat ekologis memandang alam sebagai sebuah ekosistem hidup. Antara manusia dan alam mempunyai ketergantungan yang tinggi satu sama lain. Sehingga eksistensi alam adalah eksistensi manusia, dan sebaliknya.
Konsepsi alam yang ekologis tersebut kemudian mengarahkan kepada pandangan alam, terutama air, sebagai yang “sakral.” Makna air/tanah air sendiri dalam kamus bahasa Sunda (Danadiberata:2006) sepadan dengan kata “kabuyutan” yang mempunyai beberapa makna antara lain: hulu air, hutan, tempat tinggal manusia, dan juga barang-barang kerajaan yang dikeramatkan. Sakralitas kabuyutan sebenarnya bukan disebabkan karena daya magisnya, melainkan karena vitalitasnya bagi kelangsungan hidup manusia. Dengan kata lain, sakralitas kabuyutan tersebut ditujukan untuk menjamin semua yang dibutuhkan manusia itu tersedia di alam.
Hal tersebut tertulis dalam naskah Siksa Kandang Karesian (630) yang ditulis pada abad ke 15 dan berikut ini saya kutipkan dari terjemahannya Danasasmita (1987): Ini pakeun urang ngretakeun bumi lamba, caang jalan, panjang tajur, paka pridana, linyih pipir, caang buruan. Sangkilang di lamba, trena taru lata galuma, hejo lembok tumuwuh sarba pala wo(h)wohan, dadi na hujan, landung3 tahun, tumuwuh daek, maka hurip na urang reya. (par.4). Artinya: Ini (jalan) untuk kita menyejahterakan dunia kehidupan. Seluruh penopang kehidupan; Rumput, pohon-pohonan, rambat. semak, hijau su¬bur tumbuhnya segala macam buah-buahan, banyak hujan, pepohonan tinggi karena subur tumbuhnya, memberikan kehidupan kepada orang banyak.
Mengingat pentingnya kabuyutan, maka dalam naskah Amanah Galunggung (633) ditegaskan bahwa kabuyutan harus dijaga dari kemungkinan orang luar merebutnya. Poin pentingnya, menjaga kabuyutan sama dengan menjaga kehormatan. Salah satu butir dari amanah galunggung menyebutkan: Lebih berharga kulit musang yang berada di tempat sampah dari pada raja putra yang tidak bisa mempertahankan tanah airnya(p.3). Dengan cara bagaimana kabuyutan tersebut harus dijaga? Ada sebuah teks danding yang berhubungan dengan persoalan ini yang mengatakan:
Cikeruh Ulah Rek Kiruh,
Kuduna Canembrang Herang
Nya Ieu Sirah Cai Cisempur,
Kudu Dirumat Sangkan Hirup Makmur
Didieu Tapak Sasaka,
Sirah Walungan Jadi Pusaka
Lamun Hirup Hayang Nanjung,
Piara Ieu Sirah Cikapundung
Ieu Sasaka Jadi Amanat,
Sirah Cai Kudu Dirumat
Ciri Bakti ka Lemah Cai,
Ku Miara Ieu Sirah Cai.

Cikeruh tidak boleh keruh
Harus tetap bersih dan bening
Inilah hulu air Cisempur
Harus diruwat agar hidup makmur
Disini jejak sasaka
Hulu sungai jadi pusaka
Kalau hidup ingin makmur sejahtera
Peliharalah hulu air Cikapundung ini
Sasaka ini jadi amanat
Hulu air mesti diruwat
Tanda bakti ke tanah air
Dengan memelihara Hulu air ini

Menjaga hulu air adalah salah satu cara menjaga kabuyutan. Amanah dalam danding di atas berisi sebuah etika bagaimana masyarakat sunda memperlakukan air. Karena air sangat penting bagi kesejahteraan manusia, maka air harus dijaga dan hormati dengan cara meruwatnya. Saya kira danding tersebut ketika dihubungkan dengan danding lain akan terlihat ada muatan ajaran kesiap-siagaan dalam menghadapi bencana. Danding tersebut adalah sebagai berikut:
Gununu-gunung di barubuh,
Tatangkalan di tuaran,
Cai Caah babanjiran,
Buana marudah motah.

Gunung-gunung diurug
Pohon-pohon di tebang
Air bah membanjiri
Bumi pun bergonjang-ganjing (gempa)

Sederhananya, meruwat hulu air juga berhubungan dengan persoalan kerusakan lingkungan dan faktor-faktor kebencanaan. Ketika hutan-hutan ditebang, datangnya banjir di musim hujan dan keringnya air sungai di musim kemarau plus gempa yang datang tiba-tiba, maka tidak lain ada hubungannya dengan perbuatan manusia.
Dengan demikian ruwatan adalah salahsatu cara mitigasi bencana, agar lingkungan tetap dijaga jangan sampai rusak. Kalaupun terjadi kerusakan, maka yang harus diperbaiki bukan hanya daerah yang berada di daerah rendah saja, melainkan juga dari hulu sungainya. Langkah tersebut adalah perbaikan kerusakan dari sumber masalah penyebab munculnya bencana, bukan dari peri-peri, apalagi dari hilir.
Mitos-mitos air (banjir dan tsunami)
Dalam pemahaman masyarakat Sunda, air bukan hanya menjadi identitas komunitas, tradisi ritual dan pandangan hidup, tetapi juga menjadi penghias mitos-mitos yang berkembang di masyarakat. Memang mitos tersebut tidak berbicara air secara langsung, namun sebagaimana umumnya mitos yang menyembunyikan kearifan dalam narasi yang samar dan simbol-simbol yang multitafsir. Di balik narasi dan simbol tersebut pada dasarnya terselip pesan-pesan masyarakat agar sadar bencana.
Setidaknya saya menggarisbawahi dua mitos yang saya sebut sebagai mitos banjir dan mitos tsunami. Mitos banjir terdapat dalam Sangiyang Tikoro. Sebetulnya mitos tersebut hanya berkembang di daerah Bandung dan sekitarnya. Kemudian mitos tsunami yang terdapat dalam cerita Nyi (Kangjeng) Ratu Kidul. Kedunya akan di bahas secara singkat di bawah ini.
Mitos Sanghyang Tikoro masih terdengar di Bandung yang disebarkan dari mulut ke mulut. Mitos ini kelihatannya muncul atas refleksi kondisi topografis daerah Bandung yang berupa cekungan berbentuk kuali. Daerah yang model ini rawan terkena genangan banjir, terutama daerah rendahnya. Refleksi tersebut kemudian didukung oleh pengetahuan yang menunjukkan bahwa Bandung pada awalnya adalah danau raksasa yang terjadi sejak ribuan tahun lalu.
Dr. F. Klom (1956), professor Belanda yang pernah mengajar di ITB, berteori bahwa Bandung terbentuk dari pengeringan Danau Bandung Purba sejak 4000-3000 tahun yang lalu. Danau tersebut mengering karena airnya surut ke laut lewat saluran air yang bernama Sanghyang Tikoro. Arti sanghyang dalam bahasa Sunda berarti dewa, tikoro berarti tenggorokan. Lokasi dari Sanghyang Tikoro sendiri berada di pegunungan kapur Padalarang dan saat ini menjadi pintu saluran air Citarum.
Narasi mitologi Sanghyang Tikoro menyebutkan bahwa lokasi pengeringan danau purba tersebut sebenarnya berada di bawah tanah yang salurannya diapit oleh dua pintu batu. Pada suatu saat dipercaya kedua batu tersebut akan menutup saluran dan menyebabkan Bandung kembali menjadi danau raksasa. Bandung akan dilanda banjir bandang yang masyarakatnya tidak akan ada yang selamat kecuali yang naik ke gunung-gunung yang melingkari Bandung saat ini.
Selanjutnya, mitos Nyi Roro Kidul yang di dalamnya memuat pesan menghindari tsunami. Cerita Nyi Roro Kidul yang berkembang di Sunda dengan yang berkembang di Yogyakarta sedikit berbeda. Apabila dalam mitologi yang berkembang di Yogyakarta Nyi Roro Kidul banyak dibicarakan dalam hubungannya dengan tiga pusat kekuasaan yaitu Ratu Pantai Selatan, Keraton Yogyakarta dan Gunung Merapi. Pada Posisi tersebut Nyi Roro Kidul dianggap mempunyai hubungan istimewa dengan keraton. Ia berkuasa menghukum orang yang dianggap tidak menghormatinya dengan mendatangkan bencana atau pun meminta tumbal kematian.
Sementara dalam kepercayaan masyarakat Sunda, sebagaimana dituliskan oleh Robert Wessing dalam artikelnya A Prince from Sundenese (1997), lebih banyak berbicara asal-usul Nyi Roro Kidul serta rasionalisasi bahayannya. Umumnya orang Sunda percaya bahwa Nyi Roro Kidul adalah keturunan raja Sunda yang terusir dari kerajaan Padjajaran. Ia dikutuk menjadi gadis buruk rupa sehingga kemudian ia dibuang ke hutan. Agar penyakitnya sembuh, ia diharuskan mandi di pantai selatan. Karena ia mengingikan kesembuhan, ia akhirnya mandi di pantai selatan. Kesembuhanpun ia peroleh, namun ia tidak lagi kembali ke Padjajaran dan memilih menjadi ratu di Pantai Selatan.
Selain narasi versi di atas, ada versi lain yang beredar di masyarakat yang menyebutkan bahwa Nyi Roro Kidul adalah seorang gadis desa yang menceburkan dirinya ke laut gara-gara gagal menikah. Ia dendam kepada si calon suami dan bersumpah menjadikan siapapun orang Bandung yang mandi di laut sebagai korban pembalasan dendam.
Terlepas dari cerita mana yang benar, masyarakat Sunda umumnya tidak menekankan mitologi tersebut dari sisi mistisnya. Reaksi masyarakat terhadap mitos tersebut bukan pemujaan atau pemberian sesajen ke laut, tetapi anjuran agar orang sunda (khusunya Bandung) tidak mandi di Pantai Selatan untuk menghindari kemarahan dan balas dendam Nyi Roro Kidul.
Gambaran Nyi Roro Kidul sendiri umumnya dilukiskan sebagai “wanita cantik” yang datang dan memperlihatkan diri kepada manusia dengan mengendarai kereta kencana kebesarannya yang kemudian diikuti oleh ombak bergulung-gulung di belakangannya. Lukisan tersebut misalnya dapat dilihat di Samudra Beach Hotel Sukabumi ataupun di poster-poster yang dijual secara bebas di pasaran.
Ombak yang besar yang mengiringi Nyi Roro Kidul atau gambaran ombak sebagai Nyi Roro Kidul inilah yang dianggap sebagai bahaya sebenarnya oleh orang Sunda. Logikanya, kalau Tsunami adalah ombak yang sangat besar yang menghampiri daratan dan biasa terjadi di laut selatan, maka pada konteks tertentu, mitos Nyi Roro Kidul dapat disebut sebagai mitos menghindari bahaya Tsunami.
Oleh karena itu tidak heran jika kemudian Eko Yulianto, peneliti dari LIPI dalam buklet Selamat dari benacan Tsunami yang diterbitkan bekerjasama dengan Unesco (2006) menyebutkan bahwa ada kesamaan antara mitos Nyi Roro Kidul dengan cerita Smoong di kepulauan Simeulue. Smoong adalah perintah yang terdapat dalam nyanyian populer masyarakat Simulue warisan leluhurnya agar masyarakat pergi ke tempat yang tinggi ketika terjadi gempa di laut yang dipercaya dapat menimbulkan Tsunami.
Membentuk masyarakat yang siaga bencana
Pada saat ini sedang terjadi degradasi etik kearifan lokal. Perkembangan industri sedikit banyak merubah paradigma berpikir masyarakat. Misalnya sungai yang dalam konspesi pemikiran tradisional dimaknai sebagai tamsil hidup. Jika sungai, hutan, dan gunungnya hancur, manusia pun hancur. Dalam dunia agraris, sungai berfungsi untuk mengairi persawahan dan menyediakan air minum. Pada era industri sekarang sungai berubah fungsi menjadi tong sampah raksasa tempat pembuangan limbah industri.
Padahal kalau direfleksikan lebih jauh interpretasi philosophis dan mitologis menunjukkan bahwa perbuatan yang tidak sensitif lingkungan dapat mendatangkan bencana. Pandangan philosophis dan mitologis tentang air adalah semacam “alarm” agar masyarakat siap-siaga dalam menghadapi bencana yang ditimbulkan oleh air. Budaya alertness ini sangat diperlukan untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat dalam menghadapi ancaman, sekaligus juga menolong diri mereka sendiri supaya tidak menjadi korban bencana.
Kesiap-siagaan ini mungkin karena pandangan dunia masyarakat sunda tentang bencana tidak bersifat fatalistik, yang melihat sebuah kejadian sebagai hukuman dari tuhan, melainkan berkorelasi dengan perbuatan manusia. Cara berpikir yang dominan pada masyarakat lokal tentunya berbeda dengan cara berpikir barat modern yang hanya melihat alam sebagai objek untuk dikuasasi dan ditaklukkan. Penguasaan dan superioritas manusia atas alam adalah salah satu penyebab hancurnya ekosistem. Sebaliknya, cara berpikir ekologis dalam melihat alam dapat menghindari tindakan eksploitatif terhadap kekayaan alam dengan cara hidup berdampingan dengannya.
Tradisi dan ritual kemudian bukan hanya dapat dimaknai sebagai perbaikan hubungan antara makrokosmos dan mikrokosmos sehingga hubungan antara manusia dengan yang sakral dapat dipulihkan, namun juga mengandung sepirit mitigasi bencana. Selanjutnya mitologi mendekatkan masyarakat dengan pemikiran yang lebih sadar akan ancaman. Mitos mengkonstruksi kesadaran masyarakat akan bahaya yang ditimbulkan oleh kondisi alam dan bahaya yang tidak terduga.
Tidak begitu penting adanya Sanghyang Tikoro ataupun Nyi Roro Kidul, tapi yang terpenting adalah nilai-nilai ajaran supaya masyarakat berhati-hati dan siap-siaga dalam menghadapi kemungkinan bencana terburuk. Pemikiran yang berbentuk kesadaran identitas alam yang kemudian ditindaklanjuti dengan perintah menjaganyaseperti yang ada dalam tradisi lokal barangkali masih bisa diharapkan menghindarkan masyarakat dari bencana dalam konteks sekarang.[]

Read More...
AddThis Social Bookmark Button

Theology in the global context

What kind of theology appropriate with the modern/postmodern age in Christianity? Perhaps revisionist and liberal theology are some of the answer. Revisionist theology and post liberal theology are responds for modernism in which world more globalized and human living closely related by breaking traditional boundary that has been strictly formed by religious differentiation. Revisionist theology aim is to find the ways in which Christian can explain what they believe and argue for its truth in the ways of non Christian. In short, revisionist theology is to answer how religion involved in conversation in public domain in society and own culture. While, post liberal theology is showing the view of Christian in seeing the bible teaching in which appropriate with current development of human by interpreting bible.
The idea of both revisionist and post liberal theology has been questioned because of have such problem in inner concepts. Firstly is the concept of public and tradition. David Tracy as the founding of revisionist theology likely said that Christian theology better understood as philosophical reflection upon meanings present in human common experience and the meaning in the Christian tradition. Common human reflection is common human experience or it should morally follow the scientific finding. Where is Christian doctrine and how to placing Christian tradition in the public domain? In the core of that theology seems is theological claim of truth.
In the other hand, post liberal theology in which seemly on the hand of Hans Frei absolutely reflection on biblical hermeneutic more focus to questioning the formulation of truth. He assumes that religion have to deal with truth because it will be human guidance in life. But the problem is whether all religious teaching as narrated in bible completely true. In the bible most verses are story in which is cannot be understood in the modern context. The stand point of interpreter and regard to text seem the task of Frei. He proposed understanding text trough the context of utterance, not in the modern context. However, modern context is still important, but the issue is how to find the value of truth in the text. His approach drives him to see scripture, even god, in the linguistic cultural term. The consequence he see the element of religions is not merely sacred text, but also myth, narrative, etc.
Perhaps both revisionist and post liberal has reflected modernity and democracy as challenge and trigger to construct new theology. In this ways these are starting point to reform religious doctrine that seems orthodox or fundamentalist. In the modern word there is no universal religion that available to acknowledge as the true one. All religion positioned in the same position as the element of modernity in which technology and science was more dominant. Religion although defined firstly by western, but it world phenomena that has erected and nurtured by different culture. There is no superiority religion as well because of the fact that all religions have unique logic ways to find and say the way adherent belief. Thus, every religion should be placed itself as local belief not in universality. The claim of universality of truth or the only truth one will lead to colonializatiation of belief. Other religion will be placed as minority religion in which have nothing truth beside the shadow of the universal truth.
That claim is boundary of religious dialogue of course. Whereas religious doctrine in which framed the thinking of lonely own truth is not the only religious construction of religion. Religion is also about religious experience, functionality of doctrine to shape religious adherent living, and the ability to appropriating religious doctrine teaching with the debate happened in the public domain. Public domain is plural as plurality of belief in religion. It is seemly impossible to seek the common source of various religions as done by academician. In the other hand, not all religion has an ability to show the inner teaching that is having well responsible for social manner.
The core finding of these theologies is actually to find common ground to begin the conversation and build new democratic world. Human being and its living become important factors in determining the new doctrine. Theology revisionist in simple is earth theology in which theology that has very much talk about god and his law in the scripture being turn down to the human issue and what human face in live. There are many problem of human that cannot be answer by old theology. In addition, not all verses of scripture functioned without the interpretation. Common ground is impossible begin by the god theology, because inherently the concept of theology are different.
One of the solutions is trying to understand the other by mastering the theology and its culture. But that hard to realize, not many people can do that. In fact in general conversation to speak one did not need it at all. Just begin conversation by saying hello sometimes is enough. Democracy perhaps is the condition that will help conversation in equal positioned happened. However, we need some vision that can be the issue of religious conversation in order the energy of religion can be focused to build the world. Actually, the issue as Paul Knitter I his article one earth many religions said can be trough the actual issues, like global warming, suffering, poverty. However, before that all happens the hard struggle is how all religion in order to accept the conversation and deal with the global issues. Perhaps, as Jhon Rawls (political liberalism: 2007) said, we need priority of right over true. That will guarantee people to get all the right without hesitancy.[]

Read More...
AddThis Social Bookmark Button

Managing time and place: An effort to unify history and anthropology

History can become more historical in becoming more anthropological,
that anthropology can became more anthropological in becoming more historical...
Bernard Cohen (in the state of play)

In the view of Cohen both anthropology and history are stand in the same position as discipline that the object is otherness. However, the concept the other have different emphasizes, while anthropology stresses place, at vice versa history stresses time.
Time and place are equally important in the process of knowing. Object is not only known trough the synchronic method, but also diachronic method. Combining these methods of course can help to get better understanding in exploring the fact as reality.
In the quote above, I underline Cohen’s statement that anthropology and history do share in epistemological level. The process of knowing in anthropology can elevate better if that discipline not diminished historical dimensions. Conversely, history can do better in explaining the stage by anthropological finding.
It can be understood of course, as long as history emphasizes time as period of action. Action happened in place, there is no action without specific place. There is no action without time too. Time and place are the ways that action happened.
Date, year, and day perhaps are the most important thing in the history; while people action, attitude, and respond are do best source in anthropology. But, history just able to repaint reality as mosaic, in the other hand, anthropology can make it as complete image.
However, combing history and anthropology method and its similarity in object and epistemology is not means that between them have no problem. Different focus is also problem, especially in the objectivity of explanation.
I see history tries to find the detail of action, narrative, and perhaps not quite analytic, while anthropology tries to find correlation between action and its embedment. Its means history avoid reduction, whereas anthropology accept reduction to generalize the fact and find the truth.
Others issue is about the sameness of stand point that in history one thing should be interpreted as historical even. If anthropology can do research without need a specific situation in which great or surprised, conversely history need it.
It is difficult to do research in history of culture rather than history of revolution. Revolution or violence can be period to begin to write history because it shown astonishment effects that easier historian to write. In contrary, anthropologist can easy writes the history because it rooted on the casual culture.
In addition, I see many histories, as Foucault views, just write history of great man, king, and superpower rather than lay people and discriminated class. The exception perhaps history that appear in the Marxist ideology. This tendency is undoubtedly different with anthropology that sees human in structure of body, rather than in the structure of power.
Questioning of objectivity
The question than concerning the value of anthropology and history itself it self, since they are rooted in the culture, it is difficult to say that same finding are objectively better than others.
Culture are fact and value free, historian and anthropologist can interpret it as it own ways and own needs.
Every cultures have it own language, that it’s different each others. Islamic values and Christian values are completely different although they are come from the some source as Abrahamic religion. One culture cannot be compared with others as neutral things.
There is different paradigm that embedded in the culture and the view of researcher. The different paradigm could affect to value appraisal. Paradigm is set of assumption and method of researcher and logic of community as they are conducted that shows in the representation of symbol.
Cohen says that “The idea of a paradigm, which is based on the idea of community consensus and its acceptance in anthropology, has only led to politics, not to science. But paradigms in anthropology are in fact political rather than scientific.”
He clearly acknowledges that paradigm is not neutral since it have political dimension. He further states that paradigm can used to intimidate other discipline of knowledge, as the superior one. “What are thought of as "schools" in American anthropology are in actuality mere reifications of networks of people trained together, who then try to colonize other departments with their epigones, adherents and acolytes, any coherence assumed in such departments then being based not on a paradigm but on a power play.”
In the other hand, postmodernists reject the idea of universalism that believes that all culture can be explained trough such great theory. In this regard anthropology has a momentum; anthropology generally chooses particular of society or particular object of society rather than society in general.
I think, that are problem of history and anthropology as methods, and its problem related to paradigm. Perhaps that can help us to understand the things trough multidimensional aspects, but perhaps sometime by combining all method and theory to some research are misleading.
Knowledge is not about objectivity, but also about belief. Temanggung and Bogor perhaps are same as mountain areas, but Temanggung people choose to plant tobacco rather than tea as Bogor people does. Knowledge about the structure of land, fertility may be useful, but it is not mean can help to explain the fact. Bogor and Temanggung people plant different plantation may be bay reason of habit, belief, or other factors.[]

Read More...
AddThis Social Bookmark Button

Pesantren Menggugat Terrorist: Response Kyai, Santri, dan Eksponen Jihadist

Mencuatnya issue terorisme yang disusul dengan ditangkapnya eksponen JI dan para pelaku terror membawa babak baru dalam perbincangan terorisme dan Islam. Dunia pesantren sebagai basis pendidikan dan ideologisasi Islam terkena imbasnya. Pesantren disorot tajam setelah diketahui ada hubungan erat antara pelaku terror dengan pesantren. Masih segar dalam ingatan Pemerintah dan masyarakat siapa itu Dr. Azhari. Ia bukan hanya di kenal semata sebagai anggota JI, tetapi juga sabagai salah satu tokoh penting di pesantren Al-Mukmin, Ngruki Solo.
Ada beragam respons terhadap issue ini, sebagian ada yang menolak mentah-mentah hubungan pesantren dengan terorisme. Sikap ini ditunjukkan oleh para tokoh pentinggi organisasi NU dan Muhammadiyah. Dalam salah satu wawancara yang dimuat kantor berita Antara KH. Hasim Muzadi menegaskan bahwa NU steril dari terror. Tidak ada satu pun terrorist yang tertangkap berasal dari kaum nahdiyin. Di lain pihak ada yang mengamini pendapat kedekatan terrorist dengan pesantren, namun dengan catatan hanya segelintir pesantren saja. Terutama pesantren yang ber-ideology salaf dan beraliran jihadist. Sarjana yang berpendapat demikian adalah Azyumardi Azra dalam (..).
Bagaimana sebenarnya suara kalangan pesantren sendiri dalam menanggapi issue ini. Faktanya masih banyak pesantren yang diam. Belum diketahui respons element pesantren dan kelompok jihadist ini dalam menanggapi stigma negative yang mengatributi mereka dengan label pencetak generasi terror. Selama ini pesantren masih banyak direpresentasikan suaranya oleh tokoh organisasi keummatan, pemerintah maupun intelektual. Atas dasar itu Penulis mengobservasi beberapa pesantren di Yogykarta yang merefresentasikan pesantren NU, Muhammadiyah dan Salafi. Pesantren-pesantren tersebut adalah pesantren traditionalist NU Al-Falaliyah Mlangi, Pesantern al-Quran al-Munawir Krapyak, Pesantren Mahasiswa Aji Mahasiswa Krapyak, Pesantren Muhammadiyah Pandanaran Kaliurang, dan pesantren FPI Ihya As-Sunnah Ngemplak, Sleman.
Ada opini yang hampir seragam, hanya berbeda argumentasi, yang di sampaikan oleh pesantren-pesantren tersebut. Mereka menolak dan menggugat secara tegas asumsi dan tuduhan pesantren sebagai penyemai ideology terror dan produsen terrorist. Alasan dari penolakan tersebut cukup bervariasi. Yang pertama disebabkan karena faktor definisi; Kalangan pesantren tidak menerima definisi simplistic dan reduksionist yang mengkonversi Jihad sebagai terror. Kedua dari golongan NU dan Muhammadiyah yang melihat adanya ketidaktepatan impelementasi doktrin jihad yang di pahami dan dipraktekkan oleh para terrorist dan kelopok salafi. Ketiga dari refleksi kalangan pesantren terhadap masalah ke-Indonesia-an.
Teror bukan jihad
Salahsatu teorema umum yang dipercaya massa adalah terrorist selalu berlindung di bawah panji-panji jihad dalam melakukan aksi terror dan bom bunuh diri. Kematian bukan sesuatu yang ditakuti oleh terrorist, malah sebaliknya sesuatu yang di idam-idamkan. Apabila saatnya meregang nyawa tiba atas aksinya itu, para suicide bomber akan tersenyum. Di ujung mata dan pikirannya terbayang kenikmatan dan keindahan kerling mata dan harum nafas bidadari-bidadari surgawi. Terrorist adalah jalan alternatif perjuangan bagi kelompok garis keras, tetapi jalan tersebut adalah jalan kecil yang digugat oleh mayoritas. Uniknya, golongan ini juga selalu beranggapan bahwa mereka berjuang atas nama mayoritas komunitas Islam. Sehingga komunitas yang tidak tahu menahu pun terkena imbasnya.
Kyai, santri dan eksponent jihadist bukan hanya tidak sepakat dengan pemahaman tersebut, namun juga mempertanyakan asal usul teorema yang diproduksi dan dimasifkan itu. Sementara ada kecurigaan dari kalangan santri yang melihat definisi jihad sudah dipelintirkan. Abdul Harris, Rois pesantren Al-Munawir Krapyak mengatakan: “Saya tidak tahu Siapa Nurdin M Top, dan apa agama dia. Sangat sulit untuk mengetahui siapa orang yang berada dibelakang dia dan atas kepentingan apa dia bekerja.” Haris adalah santri dan sebagian kecil umat yang merasa risih dan terganggu dengan pemahaman ajaran agama yang simplistic, identitas para pelaku terror yang kabur, anomaly kepentingan yang mendasarinya, dan juga pemberitaan media yang bombastis. Ia curiga bahwa tindakan dan issue ini sengaja diproduksi oleh pihak luar untuk mengotori ajaran jihad Islam yang suci.
Kalau mengacu kepada konsep jihad yang diajarkan pesantren yaitu “ma’lumun bidhdharurah” jelas sekali yang di wacanakan diatas kontraproduktif. Menurut KH. Mustopa Bisri dalam situs pribadinya Jihad tidak bias diartikan hanya sebatas qitaal, perang tanpa menggandengkannya dengan kata fii sabiilillah. Fii sabillah adalah konteks dan norma yang harus dipatuhi. Firman allah “Wajaahidhum bihi jihaadan kabiiran” (Q. 25: 52). Artinya, berjuanglah terhadap mereka dengannya dengan jihad yang besar, yaitu menebarkan rahmat dan kehidupan. Tidak disebut jihad berjuang atas nama allah tetapi tidak mengikuti jalan-Nya untuk menyebarkan rahmat dan kehidupan, apalagi bom dan terror yang menebarkan laknat dan kematian.
Menurut Kyia dan Santri, perilaku Terrorist yang mengganggu stabilitas keamanan dan ketenangan masyarakat sulit diterima nalar sebagai seorang Mujahid. Pak Muhadi Zainuddin, yang akrab dipanggil Pak Muh dari pesantren Aji Mahasiswa, berpendapat bahwa jihad tidak bisa di lakukan dengan terror. Harris menambahkan bahwa kalaupun terrorist berniat baik, mereka hanya bias dikatagorikan kepada amal makruf nahyi munkar, mengajak kepada kebaikan dan mencegah kepada kemunkaran. Persoalannya, apakah amal makruf yang dilakukan dengan cara munkar tersebut masih disebut sebagai amal makruf? Dalam konteks jihad fii sabillah, apakah jihad yang tidak berada di jalan Allah akan mendapat surga-Nya?
Teroris rupanya diragukan komitment jihad fii sabilillah-nya. Pak Muh berpendapat yang di lakukan terrorist itu bukan jihad fii sabilillah, tetapi jihad fisabil “salah.” Lanjutnya, Islam tidak mengajarkan kekerasan dalam perjuangan karena Islam agama yang cinta damai. Pendapat tersebut dapat dimaphumi mengingat Islam sendiri mendeklarasikan diri sebagai rahmatan lil alamin, rahmat bagi sekian alam. Ada cara-cara dan norma-norma yang yang harus di taati dalam ber-jihad yang ditetapkan Qur’an dan hadist. Melabeli bom bunuh diri dengan jihad dalam konteks terorisme bukan hanya terburu-buru, namun juga ironis. Islam melarang bunuh diri dan membunuh orang lain yang tak bersalah yang selama ini sering menjadi korban terror.
Menurut Haris, Jihad harus dimaknai dalam konteks perang. dalam perang tidak ada kepastian akan mati, sebaliknya dengan bom bunuh seseorang pasti mati. Jihad adalah untuk mencapai kemenangan umat islam, bukan jalan kematian. Lawan jihad juga bukan semata ideology, tetapi agama kafir yang menyerang Islam. Pandangan Harris masih terkesan kaku dan fundamentalist, tetapi barangkali ia benar ketika mengatakan bahwa dengan bunuh diri seolah manusia mendahalui taqdir Tuhan. Frame dia sejalan dengan apa yang dilakukan oleh FPI yang melihat medan kontestasi jihad adalah perang agama. Rujukan favoritnya adalah perang di Palestina dan Afganistan. Kristen dan Yahudi yang menyerang Afganistan dan Palestina di anggap sebagai musuh konkrit yang harus dihadapi mujahid.
FPI berangkali termasuk kelompok jihadist apabila dilihat dari komitment mereka terhadap jihad. Tetapi menurut pengakuan Ustd. Rifky, Muridnya Ja’far Umar Thalib, di Pesantren Ihya As-sunnah ideology jihadist FPI yang cenderung salafi dan garis keras tidak mendukung terror yang dilakukan kelompok terrorist di tanah air. Masih dari FPI, Habib Muhmud Bin Umar Al Hamid juga secara tegas mengatakan: “Kami sebagai organisasi pembela Islam, tidak mendukung gerakan teroris dan kekerasan, Islam tidak mengenal tindakan terorisme dan kekerasan, Islam itu agama damai."
Kelihatannya Kyai, santri dan kelompok jihadist sepakat bahwa jihad sebagai terror sulit diterima agama dan akal sehat. Hanya saja, dalam beberapa hal masih ada ketidak setujuan diantara mereka. Dibanding dengan kelompok jihadist atau salafi, NU dan Muhammadiyah, menurut Azra, tergolong modern. Salafi melihat agama secara hitam putih, sebagai kafir dan muslim. Cara berpikir ideology agama masih membagi manusia berdasarkan kepada keimanan masih rawan memunculkan terror jenis baru yang juga dilegitimasi oleh jihadist.
Untuk menjustifikasi mana yang terbenar memang sulit. Selama ini jihad dinisbahkan secara particular oleh kelompok dan kepentingan tertentu. Oleh karena itu ia akan selalu bermakna ganda. Aksi teror dapat di labeli sebagai terorist dan patriot oleh kelompok yang berbeda pada waktu bersamaan. Sebagaimana halnya Mahatama Gandi yang dianggap pahlawan India di era penjajahan atas ideology perlawanan swadesi-nya yang pada waktu bersamaan ia juga di cap sebagai terrorist oleh pemerintah kolonial Inggris. Namun setidaknya kompaknya unsur pesantren dan kelompok jihadist dalam menggugat terorisme yang mencaplok jihad belakangan ini dan juga penolakanya atas definisi jihad yang kaku dan rigid bisa jadi langkah awal yang baik untuk memerangi terorisme.
Salafi, dari madhab sampai rigiditas tafsir
Dari segi pemikiran, yang mendapat sorotan dari kyai dan santri NU dan Muhammadiyah adalah cara berpikir salafi yang dianggap tidak konstektual dan non-madhab yang dipercaya berpotensi menumbuhkan ideology garis keras. Pendefinisan salafi yang demikian di kontraskan dengan NU dan Muhammadiyah yang berakar dari sejarah perjuangan bangsa dan berafiliasi madhab yang jelas. Geneology pemikiran ulama madhab berasal dari konteks tertentu, sebaliknya kaum salafi langsung berangkat dari text. Pembacaan terhadap text tanpa mempertimbangkan context dianggap berbahaya oleh ulama salafiyah.
Umumnya NU dan Muhammadiyah pengikut Iman Safi’i yang di sebut-sebut sebagai tokoh moderat dalam bidang pemikiran fiqh. Ia berhasil memoderasi pemikiran fiqh Imam Hanafi yang cenderung rasional-kontektual dan pemikiran fiqh Imam Maliki yang cenderung kaku dan rigid. Imam Syafi'i juga dikenal sebagai sosok penuh toleransi atas perbedaan. Salahsatu ajrannya, “ra'yuna shawab yahtamil al-khata' wa ra'y ghairina khata' yahtamil al-shawab.” (Pandangan yang kami yakini benar, mungkin salah; dan pandangan orang lain yang kami yakini salah, mungkin benar). Pandangan ini contrast dengan dengan pandangan terrorist yang selalu mengkalim apapun yang dilakukannya benar tanpa kecuali.
Karena salafi aliran pemikiran yang cenderung textual dan keras, ditambah dengan tidak merujuk kepada otoritas madhab yang mendorong penafsiran turats secara pribadi dan atau tidak mempertimbngakan jejaring konteks yang melatarbelakanginya dianggap berbahaya. Misalnya, dalam menafsirkan ayat “qotilul musrikina kaffah”, bunuhlah orang kafir semunya. Seringkali, menurut anggapan pak Muh, ditafisrkan salafi sebagai perintah untuk membunuh semua orang kafir tanpa kekecualian. Tidak ada istilah kafir dimmy, yang wajib dilindungi. Melainkan semuanya harby dan bisa dibunuh.
Di sinilah kelihatan karakter asli kelompok ini yang memandang doktrin dan tradisi yang berupa teks-teks kitab secara literalistik, tekstual dan final. Pandangan literal salafi inilah yang menurut Azra yang menyebabkan perilaku salafi ekstrem, radikal, fanatis, tidak kenal kompromi, eksklusif, dan fundamentalis. Padahal menurut ulama NU, ayat tadi juga harus di konfrontir dengan ayat lain untuk mendapatkan makna yang lebih universal. Seperti “lakum dinukum wal-yadin”, agamaku untukmu dan agamamaku untukku.
Kosekuensinya, yang kafir tidak dimaknai sebagai golongan yang harus selalu mati di ujung pedang apabila mereka beragama dengan jelas, berbuat baik kepada sesama, dan tidak mengajak kepada kekafiran. Di jaman Rasullah, kafir dimmy dilindungi dan tidak boleh dibunuh sepanjang kafir ini menerima dan menghormati hukum Islam. Menurut Pak Muh, hukum tersebut juga berlaku di Indonesia, karena mayoritas masyarakat Indonesia muslim. Menurutnya, “Kalau kafir dimmy juga dibunuh, rusaklah Negara.”
Indonesia, bumi kerajaan Tuhan yang lain
Alasan lain keberatan pesantren dikaitkannya terror dengan pesantren adalah tradisi panjang di tanah air. Pesantren adalah lembaga pendidikan tua yang berkiprah semejak sebelum kemerdekaan. Pesantren terlibat dalam pendikan bangsa dalam rangka pencerdasan warga Negara. Tokoh-tokoh pesantren banyak yang terlibat dalam perjuangan. Sejak dulu ulama-ulama banyak yang tergerak dalam menginisiasi perlawanan terhadap kolonialisme. Organisasi NU dan Muhammadiyah yang menjadi pillar nasionalisme adalah tumbuh dari pemikiran ulama.
Mengingat sejarah lembaga pesantren yang sangat erat dengan berdirinya Indonesia, disisi lain terorisme sering di identikkan dengan disintegrasi dan atau menyebarkan ketidak tenangan masyarakat jelas tidak sesuai dengan karakter pesantren. Pesantren yang terlibat dalam terbentuknya Negara tidak mungkin menghancurkan bangunannya sendiri.
Kalau ada yang mengatasnamakan pesantren untuk merusak ideology bangsa, kalangan pesantren berasumsi pesantren yang demikian yang tidak berakar dari tradisi bangsa ini. Atau pesantern tiban dalam pengertian Gus Mus, yaitu pesantern yang baru berkembang yang berdasarkan kepada ideology politik global semisal HTI atau Jamaah. Oleh karena itu secara karakter keduanya pasti berbeda. Pesantren yang merusak hubungan baik islam dan Negara di kecam KH. Muh sebagai pesantren yang merusak “susu dalam sebelangga.” Persoalannya, kadanga pesantren yang demikian di generalisir, dan pemerintah pemerintah tidak melihat sejarah secara holistik, sehingga pesantren menjadi korban.
Kalangan NU dan Muhammdiyah percaya bahwa Indonesia adalah bumi tuhan yang lain. wilayah kerajaan tuhan yang tidak dibatasi oleh pemerintahan tertentu. Tidak selayaknya terror dengan mengaku dilegitimasi agama menghancur tatanan kebangsaan yang sudah susah payah dibentuk selama Indonesia juga adalah bagian dari ciptaan tuhan yang layak di jaga. Mencintai Negara, adalah sebagian dari iman, begitu kata pepetah.

Read More...
AddThis Social Bookmark Button

Islamic Education in Southeast Asia » Center on Islam, Democracy and the Future of the Muslim World

Islamic Education in Southeast Asia » Center on Islam, Democracy and the Future of the Muslim World

Shared via AddThis

Read More...
AddThis Social Bookmark Button

Problem of Democracy in Islamic States

Although some Islamic country has applied democracy but some westerns scholar are still questing to Muslim ability in adopting democracy as whole. Karen Armstrong, British writer, was question: can religious states be democratic? And whether Islamic ideology will allow Muslims to embrace democracy and freedom? Armstrong fundamentally questioning the religious state or states based on religious role in dealing with democracy. Perhaps that question arise because of many Muslim countries that embraces democracy little different in implementation as western does.
Hesitancy of western scholars to the Muslim ability in maintaining democracy was based on historical fact that majority of Muslim countries are western colony. Alexander Kronemer said that the greatest obstacle to democracy in Muslim word is not Islam as ideology, but poverty, the lack of education, corruption, and repressive regime—and this is important point—are supported by democracies of the West. Many Muslim countries were colonized, they have no single decision to maintenance democracy before independent, and still cannot move forward because strong influence of colonialism. Additionally, intervention of western to internal political matter of Islamic countries to the implementation of democracy makes democracy lose it spirit. It makes Muslim lose the ability to organize who is him. Whereas, western always proclaim that democracy come from west, and west are democracy guardian. French, British Kingdom and United States continued to control ex-colonies countries. In Egypt al-Wafad Islamic party won election for seventieth, but because of British interventions and Egypt Kingdom policies just have hold administration for three times. Iran parliamentary before revolution also tried to constitute a democratic constitutional but that effort was fail because of foreign nations, Russia, British Kingdom, and United States support despotic regime of king, Pahlevi’s dynasty.
Muslim countries after independent eras are still tricky to avoid colonialism influences. French still control Marocco and Egypt and British kingdom made British Commonwealth to control ex-England colonies. An Islamic country which tries to implement democracy was in the hard positions; in one hand democracy was ideology of colonialism where Islamic countries become a victim. Moreover, many Muslims believe that Islamic state should operate khalifah as the only Islamic system. For that reason, many Islamic countries just allow democracy as ritual and institutional things, like general election to choose president and parliament. Democracy is not for pursuing people prosperity and for establishing people right guarantee, like freedom of speech and expression, and equality in front of laws.
There is longing feeling of several Muslims to adopt democracy without losing Islamic tradition identity. Anyway, for Muslim, khilafah was important system that Islamic tradition inherited that refer to prophet eras administration and khulafaurrasidhin. Of course to implement khilafah as whole almost impossible in the time because of Muslims have been divided into nation states. In the other hand, there are tension between Islam and democracy that makes both of them hard to unify. Islam and democracy for same people are different, even opposites each other. Islam after cold ward positioned as opponent ideology against western ideology. The world split into two basic camps; either democratic or totalitarian. Being democratic means American alliance, and anti-American means anti democracy. By using cold war framework thinking, Islam was like communism ideology that stands against democratic ideology. Of course that all wrong, Islam is not communism, because of the values of them are contrary each others. Western approach to Islam should different to communism. Islam is religion, not merely political ideology. There are ethics and moralities in Islam that lead to brotherhood not to enmity. Addressing Islam to the bombing and suicide are not qualified. The whole Islamic teaching is about harmony and against injustice and destruction.
Karen Armstrong true when she said that democracy could be various and Islam was not democracy opponent or anti-democracy. There are principles in Islamic law, such as the need to shura (consultation) before passing new legislation that fix to democracy. Ismail al-Faruqi also shares in opinion that Islam can accept democratic principle. Islam is not cease system, although khilafah has been practiced since long times ago, that not means fix system in Islam. Shura didn’t describe despotic system, because all decisions are negotiated. Sunni and Syiah might respond in different ways. In practice Islamic Sunni states tend to accept democracy without presuppose. But, they added Islamic laws and Islamic courts. In syiah who has strong Imamah (Syiah spiritual leader) modified some element of democracy by adding religious authority. In the case of Iran, syiah administration has derived by Ulema authority. Even, Shi’ite has a capability to separate politic and religion. Armstrong said that this separation of religion and politic was sacred because all states were seen as corrupt. That separation closes to western concept, which is separation between state and church. Perhaps, one different thing that was very significant is about sovereignty. Islam teaches that sovereignty is own God, human voice is not truly sovereign. It means that Islamic sovereignty is in the hand of God not in the human voices. Yet, it not means Muslim voices are nothing in Islam. It is a fact that many Muslims accept democracy, like in Indonesia, because democracy suitable to Muslim. Muslim in Egypt, Morocco and other Islamic country practiced democracy without losing Islamic identity.
Many critics to Islamic democratic usually refer to practice of democracy in Iran. Iran democracy called as wilayah al-faqih, where religious authority has strong position in maintaining the role of state. Higher authority is not in the people voice, but Syiah ulemas decisions. Wilayah al-faqih represents religious power toward political matter. But, Iran has democratic institution and functioning elections. General election chooses president and parliament members. Does Islamic democracy developed in Iran was deviation? If minimally democracy is measured by general election and parliament, of course Iran was democratic country. Status of Islam cannot address Iran as non-democratic state. Probably right that Iran was anti-American, but it not means anti-American cannot be democratic states. I think, making an ideal form of democracy was absolutely error. As long as supreme democratic policy in the hand of people voices, the kind of democracy will follow the interest of people. There are many factor of developing democracy in which not only religions. Politic and economy are other factors that affect to development of democracy. Different kind and implementation of democracy in Islamic countries can be right. Armstrong contends that democracy needs a process. Western democracy builds in wide array in long history since enlightenment eras. In the process happens much destruction, anomalies, and conflicts, but that all development process. Islamic democracy is in the process of finding an appropriate form to Islam and democracy. Muslim tried to found ways to give Qur’an and Sunnah a democratic interpretation. Iran democracy perhaps is not ideals religious democratic example, but should be remembered that Islam and western developed democracy from different roots. []

Read More...
AddThis Social Bookmark Button

Pluralism: First Step in Getting on Dialogue

Knitter journey

Paul Knitter writes that theology can begin from biography. He was right, and he proof that religious journey and its experience can booster one to find theological formation that saves both religion and adherent in the changing times. Globalism and openness are fact of modernization. Religion cannot close the door and avoid outdoor development. What knitter did then he changes theological perspective of Catholicism that inherently exclusive toward pluralism theology.
He moves forward from exclusivist to exclusivist thoughts until finally become a pluralist. He mention that after finishing college studies in 1962 he still an exclusive who think that other religions are false and life in the darkness of Christ light. Then he found that old exclusivist model of Christianity as light of darkness did not fix the facts. Then, after he studied at pontifical Gregorian University and accepts second Vatican council declaration toward relationship between church and other religions that acknowledges non-Christian truth and values.
By following that council, knitter became an inclusive, because belief that there are salvation in other religions. Council decision was influenced by great theologian, Karl Rahner, who proposes inclusive view toward the other. Rahner contends that Christians not only can but must look upon other religion as “legitimate” and as “ways of salvation.” Rahner theory of other religion well-known as “anonymous Christian, that is that non Christian will be saved by grace and presence of Christ working anonymously within their religion.
For knitter inclusive was the bridge to pluralism. He then followed other pluralist, for instance Jhon Hick, to accept the truth of other religions. Muslim pious is not Christian anonym, because of Muslim just follow the truth of Islam. He believes that the divine mystery, God or Theos, is greater than the reality of Jesus. That he conclude that other religions may have their own valid view and responses to the mystery. In that position, he becomes a pluralist. He passed over Christian tradition toward other religions, and then began to learn Hinduism, Islam, etc.
In the way of his journey Knitter found that every religion was not only should respect to the other religions, but also toward earth were people alive. There are bigger problem rather than religious truth, that can arise human awareness in making cooperation toward others, in which was problem of suffering. Destruction of earth, poverty, and injustice are not God deed, but human deed. Human should have responsible manner to other and universe.

Knitter reflection

Reflection to existence of “other religion and human suffering” brings Paul Knitter, a theologian, to new kind of theology of human being that was pluralist and dialogist. Pluralist is because the fact that there are many religions coming from various backgrounds and responding to the world matter with special attitude. Variety of religion obviously seems in the religious doctrine in which completely different each others. Moreover, because human beings live in the some world they sometimes shared common problem.
Knitter comes out from Hick assumption that God should be a core of dialogue. He moves the direction of dialogue from theological center to salvation center. He emphasizes to the “common problem” as basis of establishing pluralism theory and religious dialogue. It was different with Jhon Hick who tried to build dialogue by finding the “common ground” of all religions. Hick argues that various religions come from the same source, the ultimate Reality, but, people have their own privilege reflection and experience toward the ultimate because of cultural boundaries. Otherwise, common problem theory did not see whether truly all religion come from same source or no, but from the view that every religions have it own salvation in which is independent.
Knitter conceptualizes that religious dialogue can begin by analyzing the common problem faced by human being. One should move from theological assumption that all religions have similar source toward conception that all religions have global responsibility to overcome human and earth suffering. Knitter says: “I would now like to plot the course, in this book, of what might called a “multi normed, soteriocentric” (salvation center) approach to dialogue based on common ground of global responsibility for eco-human being.”
In sense of religious dialogue religious person should seek to understand and speech with each other on the basis of common commitment to human and ecological well-being. Global responsibility is not only social justice, but also eco-human justice and well-being. That is wider than doctrinal dialogues aims which just to find out similarities of religious doctrine. Global responsibility therefore includes the notion of liberation intended by traditional liberation theologians. Knitter argues that it does so aware that such project, in order truly to attend to the need of all the globe, must be an effort by the entire globe and all its nation and religions.
Injustice treatments, poverties, and oppressions are dialogue barrier. It is impossible to build healthy dialogue in unequal position. Dialogue between the oppressor and the oppressed one will be like imperialism. In building creational dialogue, cannot begin with one religion claiming to hold all the cards, or to be superior in all respect to the others, or to have the final norm that will exclude all other norms. Thus, hierarchy and oppression are things that should be diminished in dialogue.
In facing that problem, knitter suggests that religion should be an instrument of liberation of those problems. For knitter, sided with the oppressed one is not simply an option, but a demand. He says: “I do theology to the point that I could no longer go about a theology of religions unless it was connected with a theology of liberation.”

My journey

My journey was not as dramatic as knitter in finding the role of religious dialogue and changing my religion perspective as whole. I am just lay people that came from common peasant classes in my village at rural Cianjur West Java. Since child until first high school ages I never move to other district. I get Islamic knowledge since I was in 7th old in little mosque. I learn to read and write al-Quran, Islamic jurisprudence and theology from my Kyai at village. At ages of high school I continued my education to States Islamic School (Madrasah Aliya Negeri/MAN) in other district, and lived at Pesantren. My Pesantern was Sunni and Nahdatul Ulama. I get Islamic knowledge from Pesantern, and little bit from school. There was no significance changing in my religious journey in that time but obedience to traditional doctrine.
After finishing my study at MAN, my school proposed me to continue my study at al-Azhar University, Egypt. But I cannot go there because I have financial problem, I cannot pay flight tickets. It was sad, and I should change my direction and studied at States Islamic university (UIN). I was frustrated and I don’t know what major I should choose at UIN. Finally, because I wan to get new experience at learning religion, I chose and entered to comparative religion department. At comparative religion I get many new things about concept of truth that shaking my faith to God. I was pious Muslim, but after I entered to comparative student class I questioned my belief, God, ritual etc. I learn that there ware various religions with various concepts of truth. It was difficult to determine which one the truth one. I make journey from one sacred religious place to others, sometimes I was in church, and sometimes at Pura. I meet many peoples from different religions in the forum of cross religious student (FORSADA) at Bandung. I participated in the social activities held by people from different religion, I found that there were no reason I should hate them because of I and them different. When tsunami happens in Aceh, I and friend of mind from various religions went to Aceh together to help the people there. I had better relationship with the friend came from Christian Science and even I asked to give a speech after Christmas about the important thing of religious cooperation, especially between students of different religions.
I was active in several organizations both in my university and social institutions. I had awful story when I condemned by such Islamic group, namely Forum Ulama Umat Islam (FUUI), an Islamic radical stream in Bandung. FUUI labeled me and five of my friends as kafir (infidel) and we are should be killed because of gone out from Islam after I give a speech in the new student expectation at my University. I speech in front of around 2500 student: “…You are university students, you have a right to thinks and conducts as well as you are responsible. You are free to follow what kind of stream of school and thought to be your own. There are many religions in the word that have different concept of truth, perhaps Islam in not the truly right one. If you did not proof it in your experience, you cannot see the false and the truth. Here you came in the areas of goddess freedom. You can be Jewish, Christian, whatever if u find in that religion fixing truth.” The most crazy one, my friend added my speech with the appealing to say “anjing hu akbar”, (dog is great) as replacements of “Allohu Akbar” (god is great) to breakdown psychological condition of student. That speech was controversial in my university and brings to hot disputation in local newspaper (Pikiran Rakyat). Appealing to apostate was not my concern, I just wish everyone open the eyes and minds to the reality of the variety of beliefs, systems, and the ways of thinking, just that. But, FUUI classified me as freethinker and far from Islam, so they saw me and my friend as Islamist destructed

My reflection

Perhaps, the most difficult in building dialogue is not between people with different religions, but with or to the people in same religion.

Read More...
AddThis Social Bookmark Button